Rabu, 12 Maret 2014

Perang Mahabharata (Bharatayudha) Perang Nuklir dan Tekhnologi Canggih Zaman Prasejarah ???

0 komentar
# Epos Mahabarata
Kisah ini menceritakan konflik hebat keturunan Pandu dan Dristarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber,epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ±5000 tahun yang silam.
Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.

Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?

Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

# Penelusuran bukti secara ilmiah
Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.

Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).


Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:

Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.


Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.

Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

Menurut penjelasan manuskrip-manuskrip India kuno, masyarakat mereka ketika itu mempunyai mesin terbang yang dipanggil sebagai “Vimanas”.Dari beberapa kajian yang dilakukan , terdapat beberapa jenis pesawat terbang india kuno (Vimana) , diantaranya adalah Rukma Vimana, Shakuna Vimana, Sundara Vimana, dll

Banyak para penyelidik UFO ingin mengetahui suatu fakta penting. Ketika UFO disebut sebagai kendaraan milik makhluk asing, atau mungkin asalnya dari tentera kerajaan, muncul satu lagi kemungkinan yang mungkin tentang UFO yaitu benda itu berasal dari India dan Atlantis Kuno. Apa yang kita ketahui tentang pesawat terbang orang India kuno datangnya daripada sumber-sumber India kuno yang mencakup penulisan teks yang datangnya dari turun-temurun. Tanpa banyak prasangka bisa kita katakan bahwa kebanyakan teks ini adalah sah dan asli melihat sebagian besar belum lagi diterjemahkan dari bahasa Sanskrit lama.

Maharaja India Ashoka telah mendirikan sebuah organisasi “Sembilan Lelaki Misterius” yang merupakan para ilmuwan terkenal India yang dikatakan mengkatalogkan berbagai jenis sumber-sumber sains. Ashoka telah merahasiakan kerja-kerja mereka semua karena beliau merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan terpasung dari sumber India kuno itu sendiri dan justru yang akan disalahgunakan bagi tujuan peperangan yang kejam yang mana tidak diinginkan oleh Ashoka sendiri.

“Sembilan lelaki misteri” telah menulis sembilan buah buku yang saling berkaitan antara satu sama lain.Buku bertajuk “Rahasia-Rahasia Gravitasi” amat dikenali di kalangan sejarawan tetapi tidak dianggap oleh mereka sebagai sesuatu yang berkaitan dengan gravitasi bumi. Ia dianggap masih ada, tersimpan di dalam sebuah perpustakaan rahasia di India, Tibet, atau di mana-mana (mungkin juga berada di sekitar Amerika Utara). Hanya beberapa tahun silam, rakyat China telah menemui beberapa buah dokumen sanskrit di Lhasa, Tibet serta telah membawanya ke Universitas Chandrigargh untuk diterjemahkan. Dr. Ruth Reyna dari Universitas itu menjelaskan bahwa dukumen itu mengandung petunjuk untuk membuat pesawat luar angkasa! Cara-cara pembuatan mereka , adalah anti-gravitasi dan berasaskan kepada satu sistem analog yaitu “laghima”, satu sumber tenaga yang tidak diketahui oleh manusia modern. Menurut ahli Yoga Hindu, “laghima” ini menjadikan seseorang itu mempunyai kemampuan untuk terbang. Dr.Reyna menjelaskan bahwa pada papan mesin ini yang dikenali sebagai “Astras”, dikatakan telah digunakan oleh masyarakat India kuno untuk membawa satu rombongan manusia ke planet lain, sesuai yang tertera pada dokumen tersebut, yang mana dikatakan telah berusia beribu-ribu tahun. Manuskrip itu juga dikatakan telah memaparkan rahasia “antima” (cara-cara untuk menjadi menghilang) dan “gerima” (bagaimana untuk menjadi seberat gunung). Pada mulanya para ilmuwan India tidak begitu serius dengan kandungan manuskrip tersebut tetapi kemudian mereka menyedari akan hakikat bernilainya manuskrip tersebut apabila negara China mengumumkan bahawa mereka akan memasukkan bagian tertentu dari data manuskrip tersebut ke dalam program kajian angkasa mereka! Ini adalah salah satu contoh pertama kerajaan untuk mengaku membuat kajian tentang anti-gravitasi. Walaupun manuskrip tersebut memaparkan secara jelas tentang rancangan penjelajahan antar planet dan penjelajahan ke bulan tapi tidak dijelaskan apakah semua perjalananan angkasa itu benar-benar dilakukan. Walau bagaimanapun satu dari epik terkenal India yaitu Ramayana, mempunyai satu cerita terperinci tentang satu penjelajahan ke bulan dengan menggunakan Vimana (atau “Astra”).


Malah epik Ramayana menceritakan dengan terperinci maklumat satu pertempuran di atas bulan dengan sebuah pesawat “Asvin” (atau Atlantean). Ini adalah suatu bukti mengenai anti-gravitasi dan teknologi kapal angkasa telah digunakan oleh masyarakat kuno India. Untuk benar-benar memahami teknologi tersebut, kita harus meninjau kembali ke masa lampau, ke Kerajaan Rama di India Utara dan Pakistan yang terbentuk pada masa sekitar 15.000 tahun silam. Pada masa itu disebutkan bahwa telah muncul kota-kota canggih yang segala sesuatunya teratur secara sistematis mulai dari penataan lanscape sampai saluran air. Ingat bagaimana kisah Nabi Sulaiman yang menawan Ratu Balqis ? Bagaimana bentuk istananya, sehingga digambarkan apabila kita berjalan di atas lantai istana itu, seolah-olah kita berjalan di atas permukaan air ! Mungkin ini ada kaitannya. Sedangkan di dalam Al-Quran ada disebutkan tentang mukjizat Nabi Sulaiman yang bisa mengendarai angin. Ini mungkin berkaitan erat dengan teknologi yang berkembang pada jaman itu. Bukti keberadaan Rama masih dapat ditemukan di padang pasir Pakistan utara dan India barat. Rama diperkirakan hidup sejaman dengan bangsa di Benua Atlantis. Tujuh buah kota besar yang teragung dalam Kerajaan Rama yang terkenal dengan nama “Tujuh Kota-Kota Rishi” dalam teks klasik Hindu.

Menurut penjelasan teks India kuno, masyarakat ketika itu mempunyai mesin terbang yang dipanggil sebagai “Vimanas!” Epiks India kuno telah menjelaskan sebuah Vimana sebagai satu pesawat yang mempunyai dua dek dan berbentuk bulatan dengan terdapatnya lubang pada bahagian bawah pesawat dan menara pada bagian atasnya. Berdasarkan kepada keterangan tersebut kita mungkin akan mengaitkannya dengan piring terbang alias UFO . Vimana dikatakan mempunyai kemampuan untuk terbang dengan kecepatan angin dan mengeluarkan bunyi bermelodi. Terdapat sekurang-kurangnya 4 jenis bagi pesawat Vimana , sebagian berbentuk piring dan yang lain berbentuk silinder panjang (kapal angkasa berbentuk kerucut). Masyarakat India kuno yang menghasilkan kapal sendiri, telah menulis tentang manual penerbangan berbagai jenis Vimanas, yang sebagian besar manuskripnya masih dicari-cari para ilmuwan. Sedangkan bgaian manuskrip yang ditemukan malah telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Samara Sutradara adalah satu karya sastra ilmiah yang berkaitan dengan keberhasilan perjalanan angkasa dengan menggunakan sebuah Vimana.


Terdapat 230 puisi berkaitan dengan cara membuat, perjalanan sejauh seribu batu, pendaratan secara normal, kecemasan, dan kisah penerbangan di antara burung-burung! Pada tahun 1875, sebuah kitab berjudul Vaimanika Sastra ditulis oleh ilmuwan bernama ditulis oleh ilmuwan Bhara Dewaji yang menggunakan kitab-kitab yang lebih lama sebagai sumbernya. Kitab itu ditemui di dalam sebuah kuil di India dan di dalamnya tercantum keterangan-keterangan yang berkaitan dengan cara mengemudikan Vimana, langkah-langkah penyelamatan, penerbangan jauh, dan perlindungan terhadap pesawat dari ancaman badai, kilat, dan petir. Kita itu menjelaskan bagaimana cara menyerap energi matahari. Vaimanika Sastra (atau Vymaanika-Shaastra) mempunyai delapan peringkat dengan gambar sketsa yang menjelaskan tentang tiga jenis kapal udara, termasuk jenis-jenis yang bisa mudah terbakar atau hancur. Ia juga menerangkan tentang 31 jenis bagian tertentu bagi kenderaan ini dan 16 bahan mentah sebagai sumber energinya yang mana bisa juga menyerap cahaya dan tenaga panas yang sesuai untuk menggerakkan Vimana. Dokumen ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan bisa didapat dengan mengirim surat kepada penerbit Vymaani Dashaastra Aeronotics untuk Maharishi Bharadwaaja. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disunting, dicetak dan dikeluarkan oleh En. G.R. Josyer, Mysore, India, 1979. En. Josyer adalah seorang pengarah bagi akademi Tehnik Sanskrit Antar Bangsa, terletak di Mysore. Memang tiada keraguan bahwa Vimana telah digerakkan oleh sumber energi “anti-gravitasi”. Vimana lepas landas secara melintang, dan dikatakan mampu untuk beterbangan di langit seperti sebuah helikopter moden. Bharadvajy merujuk bahwa tidak kurang daripada 70 orang pihak pemerintah dan 10 orang pakar penerbangan udara yang terlibat. Sumber energi ini sekarang telah hilang. Vimana telah disimpan di sebuah Vimana griha, seperti penyangkut, dan dikatakan kadangkala dicat dengan sejenis cat putih kekuningan dan kadangkala dengan sejenis bahan merkuri.

Cat putih kekuningan kelihatan mencurigakan seperti gaselin dan mungkin Vimana mempunyai hitungan sumber energi yang berlainan termasuk mesin penggerak dan malah mesin jet saraf. Adalah menarik untuk diketahui bahwa pihak Nazi juga telah membuat mesin jet saraf praktikal pertama bagi roket V.8 mereka. Kakitangan Hitler dan Nazi juga dikatakan berminat dengan India kuno dan Tibet sehingga pada awal tahun 30- an telah membawa satu tim ekspedisi ke dua tempat tersebut setiap tahun, sebagai usaha untuk mendapatkan bukti kuat dan tidak mustahil jika dikatakan pihak Nazi mungkin memperoleh panduan ilmiah mereka dari dua sumber kuno ini. Merujuk pada Dranaparva yang merupakan sebagian dari epiks Mahabarata dan Ramayana, Vimana digambarkan berbentuk seperti sebuah bentuk bujur dan mempunyai kecepatan yang hebat seperti angin kuat, yang dihasilkan oleh bahan merkuri. Ia bergerak seperti sebuah UFO, ke atas dan ke bawah, ke belakang dan ke depan seperti yang diinginkan pilot. Di dalam satu lagi sumber India lain yaitu Samaranganasutradhara telah menjelaskan bagaimana kenderaan ini dibentuk. Pada jaman tersebut telah dikenal pemakaian bahan merkuri sebagai bahan bakar Vimana, melihat gambaran yang dijelaskan oleh buku itu. Banyak ilmuwan Rusia terheran-heran saat menemukan catatan berupa panduan mengemudikan kendaraan yang tertera di bebeperapa dinding gua di turki dan Gurun Gobi. Dari ukiran dan relief yang terdapat pada potongan tanah liat dan kaca digambarkan bagaimana sebuah kendaraan kosmik melaju. Pesawat terbang antar planet itu dilambangkan dengan segitiga yang di dalamnya terdapat simbol merkuri. Ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang India purba telah mampu mengirim utusan dengan kendaraaan ini dan menjelajahi wilayah Asia, Atlantis, sampai ke Amerika Selatan. Di Mohenjodaro (Pakistan) terdapat manuskrip yang menjelaskan tentang peperangan Ramayana yang menggunakan segala bentuk persenjataan dan kendaraan terbang semcam itu. Bayangkan betapa teknologi laser, jet, dan roket telah ada di kerajaan Ramayana sejak jaman dulu dan menghancurleburkan peradaban pada jaman itu. Mari kita simak bait-bait yang tertulis dalam kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8: “Sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang. gelap bagaikan malam, namun terlihat dari cahaya mereka yang kekuningan.” Malangnya Vimana, seperti kebanyakan ciptaan ilmiah yang lain, telah digunakan untuk tujuan peperangan. Orang-orang Atlantis menggunakan kenderaan terbang mereka, “Vailixi” untuk menyerang negeri-negeri lain dan menguasai dunia. Dalam teks kuno India mereka dikenal dengan bangsa Aswins. Meskipun tak ada catatan tentang pesawat Vailixi dari bangsa atlantis sendiri tapi kedatangan mereka ke India melalui udara banyak sekali diceritakan. Deskripsi Vailixi berbentuk silinder panjang dan selain dapat terbang juga mampu bergerak di bawah air seperti kapal selam modern.

Kendaraan-kendaraan lain, seperti Vimana berbentuk seperti piring dan mungkin juga bisa bergerak di bawah air. Menurut Eklal Kuehshana, penulis “The Ultimate Frontier”, dalam satu artikel yang ditulisnya dalam 1966, menyatakan bahwa Vailixi yang paling awal dibuat di Atlantis yaitu kira-kira 20,000 tahun lampau dan bentuk yang paling biasa ialah bentuk piring dengan tiga ruang mesin dibawahnya.” “Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti-gravitasi dengan menggunakan tenaga mesin sebesar 80,000 tenaga kuda,” Dalam teks Mahabarata, salah satu sumber yang menerangkan Vimana, ada yang menjelaskan tentang kemusnahan yang hebat yang menunjukkan kesan dari peperangan tersebut: “…(senjata itu merupakan) satu alat yang mengandung semua energi yang ada di dunia ini. Satu kepulan asap yang besar dan cahaya yang terang benderang bagaikan sinaran dari beribu-ribu matahari telah dihasilkannya…Satu pancaran kilat, satu pembawa pesan maut yang dahsyat, yang menyebabkan kemusnahan seluruh keturunan Vrishni dan Andhaka..mayat-mayat mereka terbakar hangus sehingga tidak dapat dikenal pasti. Rambut dan kuku mereka terlepas; pecah tanpa sebab, dan burung- burung bertukar menjadi putih.. selepas beberapa jam semua bahan makan turut tercemar.. untuk mengelakkan diri dairpada api itu, para laskar terjun ke dalam sungai untuk membersihkan diri mereka dan peralatan mereka..” Dari penjelasan ini, seolah-olah Mahabrata sedang menggambarkan satu keadaan peperangan menggunakan bom atom! Kini pihak Barat telah mampu mengungkap sebagian dari rahasia gravitasi .. mereka telah mampu mencipta mesin anti- gravitasi dari penghasil tenaga medan elektromagnetasi yang mereka namakan sebagai levitasi, namun masih belum lagi dipraktikkan..apakah kita dari Asia Tenggara harus bersikap acuh tak acuh saja dengan hal ini? Sadarlah. Rujukan seperti ini bukan hanya satu; peperangan senjata yang menakjubkan dan kendaraan terbang merupakan gambaran biasa dalam buku-buku epik India. Terdapat sebuah epik yang menggambarkan peperangan Vimana-Vailixi di bulan !



Peperangan yang digambarkan dalam aksi di atas menggambarkan dengan tepat tentang satu kesan letupan atomik dan kesan radioaktif ke atas penduduk. Ketika kota besar Rishi di Mohenjodaro (Pakistan) ditemukan oleh para arkeologi pada akhir abad yang lalu, mereka melihat kerangka-kerangka yang bergelimpangan di jalan-jalan, ada yang berpegangan tangan, seolah-olah mereka telah dilanda satu malapetaka yang amat dasyhat secara tiba-tiba. Pada kerangka-kerangka tersebut terdapat sisa radioaktif yang tinggi, sama dengan yang dijumpai di Hiroshima dan Nagasaki. Dari kota-kota kuno yang dibuat dari batu-bata dan batuan yang telah berubah bentuk, yaitu di India, Irlandia, Scotlandia, Perancis, Turki dan beberapa tempat lain, tiada penjelasan yang logik mengenai perubahan itu melainkan akibat ledakan atomik. Selain itu, di Mohenjo-Daro, sebuah kota besar yang terancang di dalam bentuk grid, dengan sistem saluran yang lebih baik daripada yang terdapat di Pakistan dan India, jalan-jalannya dipenuhi dengan serpihan “kaca-kaca hitam”.

Serpihan tersebut kemudiannya dikenal pasti sebagai tanah-tanah liat yang telah cair akibat kepanasan yang melampaui batas. Pasca tenggelamnya Atlantis dan kemusnahan Rama akibat senjata atomik, dunia untuk sesaat kembali ke zaman batu seperti beberapa ribu tahun sebelumnya. Namun begitu, nampaknya bukan semua Vimana dan Vailixi milik Rama dan Atlantis yang hilang. Karena diciptakan untuk berfungsi selama beribu-ribu tahun, kebanyakan masih bisa digunakan, seperti yang terdapat dalam karya tulis “Nine Unknown Men”, Ashoka, dan manuskrip Lhasa.

Yang menarik adalah terdapat satu petikan sejarah yang menyatakan bahwa semasa Iskandar Yang Agung menyerang India lebih daripada dua ribu tahun lalu, pasukannya telah diserang dengan “perisai yang berterbangan dan bercahaya” yang menakutkan pasukan tentera dan pasukan berkudanya. Walau bagaimanapun “piring-piring terbang” itu tidak menggunakan sembarang bom atom atau senjata lain ke atas laskar Iskandar. Di masa itu juga Iskandar menawan India Ramai. penulis yang menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat rahasia telah menyimpan sebagian Vimana dan Vailixi mereka di dalam gua-gua rahasia di Tibet atau tempat-tempat lain di Asia Tengah dan Gurun Lop Nor di barat China yang sampai sekarang dikenal sebagai pusat suatu misteri UFO yang besar. Mungkin di situlah kebanyakan kapal angkasa disimpan, di pangkalan bawah tanah yang dibangun oleh pihak Amerika, Inggris, dan Rusia beberapa dekade yang lalu. Namun kemunculan UFO di masa sekarang yang begitu sering tetap saja menyisakan banyak pertanyaan tentang aktivitas mereka.




Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.

Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Bukti ilmiah peradaban Veda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun.

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya merupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4.320.000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

Perang Bharatayuda. Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin menentukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

* Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM
* Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM
* Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM
* Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM
* Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.

Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.

* Kota kuno Dvaraka. Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

* Sungai Sarasvati. Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air di wilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

* Jembatan Alengka. Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) sepanjang 30 Km, dengan lebar sekitar 100 m, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1.750.000 tahun. Angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.

jembatan ramayana 2
Sri Rama Bridge 1
Sri Rama Bridge 2
Foto: Sri Rama Bridge hasil pantauan NASA

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut) dengan lebar hampir 100 m.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.

peta Oklo
Foto: Peta Oklo, Republik Gabon

oklo15_curtin
2004-05-Oklo
Foto: bekas Reaktor Nuklir Berusia 2 Milyar Tahun di Oklo, Republik Gabon.

* Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua milyar tahun yang lalu setelah adanya bukti data geologi dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif. Masa primitif ini berakhir dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Lagi-lagi perang dan haus kekuasaanlah yang mengakibatkan manusia menjadi terpuruk. Dan hal ini patut kita renungkan lebih seksama sebagai buah pelajaran bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini?

Saudaraku, sebagai manusia sekarang, jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu kita pun tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam sebagai upaya tidak mengulangi kesalahan fatal yang pernah dilakukan.



http://oediku.wordpress.com/2009/06/19/fakta-ilmiah-adanya-perang-mahabharata-perang-nuklir-zaman-prasejarah/
Read more ►

Kamis, 21 Februari 2013

Upacara Mider Buana

0 komentar
Pada tanggal 10 February 2013,Rahina redite kliwon, wuku tolu, sasih kaulu. Ida Bethara Gede Ngurah Agung lan Bethara Ratu Mas selunding katuran mider buana ring sejebag desa gegelang. Pertegak Ratu Bethara Luhur Pucak Sari Bukit Cemeng, Pertegak Ratu Bethara Ulun Suwi, Pertegak Ratu Bethara Dalem Lan Pengayah Utawi para krama desa Ngiringan Ida Bethara Mider Buana ring Desa Pekraman Gegelang. Pinih riin ida bethara katuran melancaran saking Gedong Pesimpenan munggah ring Pura Batu Lawang dauh 09:00 wita, Kelanturan malih melancaran ngaler kanginan ngantos ring Tibu Selonding dauh 11:30 Wita, Ngelantur malih katuran melancaran munggah ring Batu Gede, raris munggah ring Boni (Dangin Munduk) sampun dauh 14:00 Wita, Tedun saking boni raris kelanturan melancaran ring wates desa ( Br.Babakan ). Serauh Ida bethara saking wates desan ngelantur kairing ke Melanting ( Dauh Munduk ) serauhe ring melanting kirang langkung dauh 16:00 Wita lan Ida Bethara katuran mewali ring Catus Pata ( Pempatan Telengan ) dauh 19:00 Wita. Irika raris katuran banten pemendak lan katuran mesanggeran. Risedek katuran mesanggeran irika raris katuran polah-palih upakara sane patut kemargian lan kepuput Ida Bethari Istri Jelantik lan Ida Bagus Gede saking geriya Duda. Risampun Puput polah-palih pengupakaraan raris Ida Bethara katuran mewali kegedong pesimpenan.
Read more ►

Selasa, 28 Agustus 2012

Karya Atiwa-tiwa Lan Atma Wedana Pasek Tatar Telengan

1 komentar

PENDAHULUAAN

1.1      Latar Belakang
Sebagai salah satu bentuk yadnya dan rangkaian upacara persembahan dan pengorbanan suci kehadapan Hyang Widdhi beserta dengan segala manisfestasi-Nya dari Panca Yadnya. Maka Ngaben merupakan bagian dari Upacara Pitra Yadnya yaitu suatu rangkaian upacara membebaskan belenggu oleh dua lapisan yang disebut dengan Sthula sarira dan Suksma Sarira. Karena itu upacara penyucian ada dua tingkatan. Pertama adalah melepaskan atma dari ikatan sthula sarira yang disebut dengan Sawa Wedana, juga disebut dengan istilah Ngaben, Kedua melepaskan atma dari suksma sarira yang disebut dengan atma wedana atau memukur. Setelah proses! kedua yadnya itu teriaksana sebagai tindak lanjut adalah ngelinggihang dewa hyang yang di awali dengan upacara meajar-ajar.
Pitra yadnya adalah persembahan suci kepada leluhur. Pitra berasal dari kata pitra yang artinya leluhur. Yadnya berasal urutan kata yaja yang berarti berkorban. Leluhur dimaksud adalah ibu bapak, kakek, buyut dan lain -lain yang merupakan garis lurus ke atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu dan bapak Jadi kita ada atas jasa mereka. Kita telah berutang kepada mereka. Utang kepada leluhur disebut pitra Yadnya
Imam lokam maatrbhaktyaa.
Pitrbhaktyaa tu madhyamam.
Gurucicrusaya twetwam .
Brahmalokam somosnute.
(Manawa dharmasastra.ll.233)
Maksudnya :
Dengan berbakti kepada ibu akan mencapai kebahagiaan di bum! ini. Kebahagiaan di dunia tengah dicapai dengan berbakti kepada ayah. Tetapi dengan ketaatan pada guru suci akan mencapai Brahma Loka.
Hakikat upacara pitra yadnya adalah untuk mewujudkan bakti kepada leluhur seperti ayah dan ibu. Beryadnya kepada leluhur seperti kepada ayah dan ibu dapat dilakukan dengan banyak cara.Salah satu dari cara itu dengan melakukan upacara pitra yadnya setelah leluhur itu tidak laku hidup di dunia yang nyata ini.
Salah satu bentuk upacara pitra yadnya adalah dengan melakukan upacara ngaben bagi leluhur atau keluarga yang telah meninggal. Hakikat upacara pitra yadnya tersebut adalah sebagai wujud doa yang bersifat multivisual untuk memohon kepada Tuhan semoga leluhur yang diupacarai ngaben itu mencapai alam niskala yang makin meningkat. Lontar Wrehaspati Tattwa menyatakan bahwa saat orang meninggal hanya badan (Stula sarira)-nya yang ditinggalkan oleh Atma atau rohnya. Sedangkan badan halusnya yaitu suksma sarira masih menyelubungi sang Atma. Dalam Lontar Gayatri dinyatakan bahwa tujuan upacara ngaben untuk meningkatkan status sang Atma. Saat meninggal sang Atma disebut Petra. Setelah diupacarai ngaben sang Atma disucikan dengan melepaskan ikatan dengan stula sarira yang dibangun oleh Panca Maha Bhuta. Dengan lepasnya sang Atma dari ikatan Panca Maha Bhuta, sang Atma disebut sang Pitra. Pitra itu adalah sang atma Wedana sang Pitra dilepaskan dari ikatan selubung suksma sarira dan selanjutnya sang Pitra disebut Dewa Pitara. Demikian dinyatakan dalam Lontar Gayatri.
Upacara Atma Wedana menurut Lontar Siwa Tatta Purana ada lima jenisnya yaitu Ngangseng, Nyekah, Memukur, Maligia dan Ngeluwer. Makna filosofinya kelima jenis Atma Wedana itu sama. Hanya bentuk fisik upacara itu berbeda-beda dari yang sederhana sampai yang mewah atau utama. Demikian juga upacara ngaben dalam Lontar Sunarigama Pengabenan atau Bayi Loka Tattwa juga adalah lima tingkatannya. Ada yang disebut Sawa Wedana, Sawa Preteka, Prenawa. Swastha dan Mitra Yadnya yang mulih ke tengah. Bentuk yang terakhir paling sederhana dalam wujud fisik upacaranya, tetapi tujuan filosofinya paling tinggi. Upacara Pitra Yadnya ini sering dianjurkan kepada umat oleh Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur. Namun banyak pandita yang tidak mau atau tidak paham tentang adanya upacara ngaben sederhana ini. Sesungguhnya upacara berdasarkan tingkatan Nista, Madya, Utama perlu ditelusuri dan juga duhungkan dengan tingkatan upacara menurut Bhagawad Gita XII. 11-13. Dalam Bhagawad Gita tersebut ada upacara yadnya yang tergolong Satvika, Rajasika dan Tamasika Yadnya. Bahkan ada baiknya dikembalikan pada system upacara ngaben bersama. Tentunya hal ini harus berdasarkan kesukarelaan dengan pengertian yang mendalam. Saat ini sesungguhnya sudah makin tumbuh kesadaran umat untuk kembali ngaben bersama. Cuma perlu ditingkatkan lebih luas dan dalam pemahaman umat mengenai upacara tersebut. Dengan demikian, kualitas penyelenggaraan upacara ngaben bersama itu akan makin baik.
Ngaben tidak lagi menjadi beban yang dirasakan sebagai sesuatu yang memberatkan oleh umat. Kalau pemahaman umat pada upacara ngaben sudah benar dan baik, apalagi mengenai ngaben bersama rasa memberatkan itu tidak aka nada. Karena ngaben, upacara Atma Wedana dan Ngalinggihan Dewa Pitra itu bentuk bakti kepada leluhur dalam upacara yadnya saja.
Berbakti kepada leluhur sesungguhnya juga wajib dilakukan dalam bentuk mengupayakan pemeliharaan dan pendidikan kepada anak-anak. Karena anak-anak itu pada hakekatnya menurut keyakinan Hindu adalah leluhur kita yang turun menjelma. Kalau segala asset keluarga dihabiskan untuk ngaben, dan nuntun Dewa Hyang misalnya, maka kalau beliau itu menjelma menjadi anak-anak kita misalnya tentunya juga menjadi tidak baik kalau kita tidak mampu memberikan pemeliharaan dan pendidikan yang benar dan baik. Berbakti kepada leluhur juga dilakukan dengan tekun berbuat baik penuh dedikasi sesuai dengan profisi dan swadharma kita masing-masing. Hal ini diajarkan dalam Manawa Dharma Sastra 111.37 dan 38. Anak-anak yang akhir dari perkawinan yang baik dan benar kalau ia berbuat baik akan dapat menebus dosa-dosa leluhur dan keturunan kita kelak. Berbuat baik dan benar menurut profesi dan fungsi masing-masing inilah jangan dilupakan sebagai cara berbakti kepada leluhur menurut bakti kepada Tuhan. Antara upacara Pitra Yadnya seperti ngaben ini dan berbuat baik secara nyata hendaknya jangan dipisahkan. Sebab upacara ngaben sampai Nuntun Dewa Hyang di dalamnya sangat sarat dengan kandungan nilai-nilai positif yang universal. Nilai-nilai universal itulah yang kita aplikasinya dalam wujud nyata dalam hidup ini sebagai bakti kita kepada leluhur.
Desa Adat Gegelang Manggis Karangasem merupakan salah satu desa adat yang setiap tahun melaksanakan Upacara Pitra Yadnya. Berdasarkan demografi jumlah penduduk mencapai 5.705.900 orang. Desa Gegelang terdiri dari 5 Banjar, yaitu Banjar Telengan, Banjar Kalanganyar, Banjar Gegelang, Banjar Pakel, dan Banjar Babakan, dengan 4 setra yaitu Setra Kalanganyar, setra Gegelang, setra Pakel dan setra Babakan. Masing-masing setra terdiri dari 1 Pura Dalem. Seperti desa adat lainya, warga Desa Gegelang terdiri dari berbagai soroh/Iklan Pura Dadya, dengan ngemong Pura Dadya masing-masing. Keberagaman inilah yang menyebabkan pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya di Desa Adat Gegelang tidak dilaksanakan secara kolektif berdasarkan Desa Adat, akan tetapi dilaksanakan secara kolektif berdasarkan soroh/klan dadya.
Desa Antiga merupakan desa dinas yang dulunya merupakan satu desa adat dengan Desa Gegelang yang bernama Desa Adat Angantelu. Sekarang Desa Adat Antiga terpisah menjadi satu desa Dinas dan satu Desa Adat dengan satu Setra. Akan tetapi hubungan kekerabatan dari warga tidak dapat dipisahkan dalam klan. Untuk itu dalam setiap upacara adat antara kedua desa ini selalu terhubungan. Sama halnya dengan upacara pengabenan yang akan diselenggarakan tahun 2012. Hal ini ternyata lebih efisien dan dapat dilaksanakan dalam 1 Desa Adat yaitu Gegelang. Efisiensi dapat dilaksanakan pada aspek upakara, pelaksanaan dan keuangan. Selain itu rasa persatuan dan kesatuan antara warga semakin erat. Pelaksanaan Pitra Yadnya di Desa Adat Gegelang tahun 2012 dilaksanakan oleh warga Pasek tatar dengan lingkup seluruh warga Pasek Telengan di Desa Gegelang yang berjumlah 477 KK. Keinginan warga sangat beralasan karena waktu upakara telah berlalu selama 5 tahun. Selain itu dalam kurun waktu 5 tahun tersebut telah memiliki sawa sebanyak 64 orang.
 

1.2     Maksud dan Tujuan
Setelah diketahui yang menjadi latar belakang dan landasan dalam upacara pitra yadnya, maka dapatlah dirumuskan maksud dan tujuan upacara itu. Secara garis besarnya, ngaben itu dimaksudkan untuk memproses kembalinya Panca Mahabutha pada badan untuk menyatu dengan Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma kea lam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu.
Sedang tujuan dari pitra yadnya adalah
1.   Melepaskan sang Atma dari ikatan duniawi
2.   Untuk mendapatkan keselamatan dan kesenangan
3.   Untuk mendapatkan sorga




II. RUANG LINGKUP PITRA YADNYA


2.1  Ruang Lingkup
Mengenai ruang lingkup dari pelaksanaan upacara pitra yadnya yang akan dilaksanakan oleh warga Pasek Tatar adalah Pitra Yadnya Sawa Preteka dengan tingkatan Madya. Sedangkan Ngeroras dengan tingkatan Catur Muka Madya. Untuk rangkaian diawali dengan upacara matur piuning pengabenan, ngeroras sampai dengan pelaksanaan ngenteg linggih. Demikian juga pada saat tatanan upacaranya dibagi-bagi menjadi tatanan-tatanan upacara kecil-kecil dan tidak biasa dilewatkan begitu saja, dan menjadi satu kesatuan rangkaian upacara yang utuh. Dalam upacara pitra yadnya kali ini profesi ngaben akan diawali dengan nebusin ngebet, ngaskara sampai ngaben dan nganyut. Ngeroras diawali dengan nganget don bingin, ngajum, ngeroras dan dikaitkan dengan upacara manusia yadnya yaitu Metatah, metelu bulanan dan Iain-lain. Sedangkan pada upacara Ngenteg linggih dirangkai dengan upacara ngajar-ngajar, maktiang Dewa Hyang sampai pada Tirta Yatra (dudonan terlampir)

2.2  Mekanisme Kerja
Sesuai dengan kesepakatan dan semangat gotong royong dan kekeluargaan warga Pasek Tatar, mekanisme kerja didasarkan ayahan warga dengan dasar yasa kerthi, tapa Ian brata.
Untuk kegiatan ayah-ayahan digunakan system ayahan dengan system shift I pagi-siang, dan shift II siang-sore. Untuk semua rangkaian upacara dikerjakan oleh warga dadya dan warga Desa


III. TATANAN UPACARA


3.1 Tempat Pelaksanaan dan Sawa
Rangkaian upacara Pitra Yadnya dilaksanakan di Desa Adat Gegelang (Setra Telengan) Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem.
Dadya
Sawa
Laki
Perempuan
Total
Penataran Pasek Telengan
17
12
29
Dadya Telaga Sari
5
9
14
Dadya Durang Kuas
7
8
15
Dadya Pedeng Dengan
3
3
6
Dadya Lambing
5
3
8
Dadya legal Linggah
6
5
11
Dadya Taman Sari
2
1
3
Total Sawa
45
41
86
Ngelungah
125
175
300


3.2 Waktu Pelaksanaan
Puncak karya Pitra Yadnya akan dilaksanakan Saniscara Pon Medangkungan 28 Juli 2012 dan Ngeroras/Atma  Wedana dilaksanakan pada Buda Umanis tanggal 15 Agustus 2012 rangkaian upacara dimulai dari tanggal  6 Januari 2012 (Dudonan terlampir).

3.3  Biaya 
Rangkaian Upacara pengabenan, Atma Wedana dan Ngnteg Linggih diperkirakan menghabiskan dana yaitu :
Pengeluaran                            Rp. 840.300.000
Pemasukan                              Rp. 576.950.000  _
Kekurangan                             Rp. 263.350.000
Rincian dari pemilik sawa 86 @sebesar Rp. 6.000.000 Ngelungah 300 @sebesar         Rp. 100.000,- dan urunan beras untuk dadya 5 Kg, Kekurangan dana dari rangkaian upacara ini akan dipenuhi dengan melakukan efesiensi kerja dengan gotong royong, efisiensi konsumsi dan bahan, optimalisasi punia, dan melakukan penambahan evaluasi pada penyekahan. Berikut Rincian Anggaran yang dibutuhkan selama proses! Ngaben ini dilaksanakan.


3.4 Kepanitiaan
Rangkaian upacara ngaben ini diselenggarakan berdasarkan TRI MANGGALANING YADNYA yang terdiri dari:
1.   Pemuput Karya inggih punika
Berdasarkan hasil keputusan warga Pasek Telengan Desa Gegelang, untuk memuput karya adalah pedanda Ciwa dan Buda yaifu sebagai berikut :
  •   Ida Pedanda Gde Ketut Telaga
  •   Ida Pedanda Istri Ngurah
  •  Ida Pedanda Istri Jelantik
  •   Ida Pedanda Wayan Taman
  •   Ida Pedanda Gede Buruan
  •   Ida Pedanda ring Buda Keling
2.   Sang Wiku Tapini Ian Sarati /tukang banten :
  •   Ida Ayu Darmayanti, Geria Duda
  •  Ida Ayu Putu, Geria Duda
  •   Ida Ayu Putri, Geria Budakeling
  •   Ida Ayu Made, Geria Budakeling
Dibantu oleh para sarati yang ada di sekitar Banjar Telengan.
3.   Sang Madruwe karya/prawartaka karya
Adapun kepanitian dari Upacara Pitra Yadnya diambil dari perwakilan seluruh warga yang ada sesuai dengan kompentesinya dalam adat maupun dinas, susunan kepanitian adalah sebagai berikut (terlampir)
Read more ►
 

Copyright © TELENGAN BALI Design by cenik85 | Blogger Theme by Nak Bali | Powered by Telengan Community