Kamis, 06 Januari 2011

MODEM AHA

0 komentar
Internetan murah dan cepat....??? ini solusinya.....!!!
Sekarang sudah ada modem AHA dengan kecepatan 3,1Mbps.Dengan harga yang relatif murah dijamin tidak murahan hanya Rp 499.000-


085237162100
Read more ►

Senin, 03 Januari 2011

RENUNGAN MALAM SIWARATRI

0 komentar
Purwaning tilem kepitu adalah jatuhnya rahina siwa ratri,siwa ratri berasal dari kata siwa dan ratri,siwa berarti sebutan salah satu nama tuhan dan ratri berarti malam dan jika digabungkan menjadi pemujaan kepada siwa dan mungkin banyak orang bertanya kenapa dilakukan dimalam purwaning tilem kepitu karena pada saat itu merupakan malam tergelap disepanjang tahun.

Ketika saya masih duduk dibangku sekolah pernah disuguhkan cerita seorang pemburu yang setiap hari pergi kehutan untuk meboros di bernama sang lubdaka.dan pada suatu hari sang lubdaka pergi kehutan dan tidak menemukan satupun binatang buruan sampai ia masuk kepedalaman hutan dan pada akhirnya ia tersesat hingga malam tiba,karena takut akan ancaman binatang buas sang lubdaka pun naik keatas sebuah pohon yang bernama bilwa dan karena takut jatuh ia pun tidak berani memejamkan mata hingga pagi datang(kok jadi mendongeng ya,,,)dan karena ia tidak tidur semalaman pada malam itu semua dosa-dosa sang lubdaka diampuni.sehingga umat hindu mengenal malam siwa ratri sebagai malam penghapusan dosa.

Kini malam siwa ratri telah menjadi tradisi umat hindu untuk melakukan jagra semalaman,melakukan bakti kehadapan ida sang hyang widi wasa dengan harapan semoga menyempitkan ruang dosa-dosa kita sepanjang hidup dan memberi jalan terang sehingga terhindar dari lubang yang menjeruskan kita liang dosa,

Dan mungkin dari cerita sang lubdaka ini orang akan beranggapan kita bebas berbuat dosa karena akan dapat ditebus dengan melakukan jagra dimalam siwa ratri,dan saya punya pemikiran lain dan bukan bermaksud bersebrangan dengan apa yg dikenal oleh umat hindu pada umumnya.apa yang kita buat tidak seharusnya kita biarkan adanya kesalahan dan berpikir akan kira perbaiki disaat barang itu selesai,dan Apakah tidak sepatutnya sedari awal kita berpikir untuk membuat menjadi baik?dan bukan menunggu di belakang? dan sis inilah mungkin sedikit yang harus dipahami oleh umat hindu,sehingga tidak membiarkan dosa itu berlarut dan harus diperbaiki sejak dini dan mulai dari dalam diri,sehingga kita selalu hidup dalam kedaan damai.Dan mungkin umat sedarma memiliki ulasan lain mengenai siwa ratri ini?dan damai selau,,,
Read more ►

Senin, 06 Desember 2010

Galungan Day is Equal as Earth Day

0 komentar

Selamat Galungan "Earth Day"

Galungan is a Balinese holiday that occurs every 210 days and lasts for 10 days. Kuningan is the last day of the holiday. Galungan means "When the Dharma is winning." During this holiday the Balinese gods visit the Earth and leave on Kuningan.

Occurring once in every 210 days in the pawukon (Balinese cycle of days), Galungan marks the beginning of the most important recurring religious ceremony that is celebrated by all Balinese. During the Galungan period the deified ancestors of the family descend to their former homes. They must be suitably entertained and welcomed, and prayers and offerings must be made for them. Those families who have ancestors that have not yet been cremated, but are still buried in the village cemetery, must make offerings at the graves.

Although Galungan falls on a Wednesday, most Balinese will begin their Galungan 'holiday' the day before, where the family is seen to be busily preparing offerings and cooking for the next day. While the women of the household have been busy for days before creating beautifully woven 'banten' (offerings made from young coconut fronds), the men of our village usually wake up well before dawn to join with their neighbours to slaughter a pig unlucky enough to be chosen to help celebrate this occasion. Then the finely diced pork is mashed to a pulp with a grinding stone, and moulded onto sate sticks that have been already prepared by whittling small sticks of bamboo. Chickens may also be chosen from the collection of free-range chickens that roam around the house compound. Delicate combinations of various vegetables, herbs and spices are also prepared by the men to make up a selection of 'lawar' dishes. While much of this cooking is for use in the offerings to be made at the family temple, by mid-morning, once all the cooking is done, it is time for the first of a series of satisfying feasts from what has been prepared. While the women continue to be kept busy with the preparations of the many offerings to be made at the family temple on the day of Galungan, the men also have another job to do this day, once the cooking is finished. A long bamboo pole, or 'penjor', is made to decorate the entrance to the family compound. By late Tuesday afternoon all over Bali the visitor can see these decorative poles creating a very festive atmosphere in the street.

On Wednesday, the day of Galungan, one will find that most Balinese will try to return to their own ancestral home at some stage during the day, even if they work in another part of the island. This is a very special day for families, where offerings are made to God and to the family ancestors who have come back to rest at this time in their family temple. As well as the family temple, visits are made to the village temple with offerings as well, and to the homes of other families who may have helped the family in some way over the past six months.

The day after Galungan is a time for a holiday, visiting friends, maybe taking the opportunity to head for the mountains for a picnic. Everyone is still seen to be in their 'Sunday best' as they take to the streets to enjoy the festive spirit that Galungan brings to Bali.

The date for Galungan and other special Balinese days is shown on the Balinese Calendar.

from : Here
Read more ►

MAKNA GALUNGAN

0 komentar

MAKNA GALUNGAN :
Oleh : Made Awanita, Dep. Agama, Jakarta

Pupuh Sinom:
1. Becik malih ya kawitang,
Ne madan Dharma walinin,
Dharma marti kepatutan,
Anggon kanti jroning urip,
Yaning patute marginin,
Sinah rahavu kapangguh,
Nging yan Adharma jalanang,
Kewehe banget puponin,
Ngawe lacur,
Bulak balik manumadi.




SEKAR ALIT MAKNA DARI HARI RAYA GALUNGAN :

Pupuh Sinom:
1. Becik malih ya kawitang,
Ne madan Dharma walinin,
Dharma marti kepatutan,
Anggon kanti jroning urip,
Yaning patute marginin,
Sinah rahavu kapangguh,
Nging yan Adharma jalanang,
Kewehe banget puponin,
Ngawe lacur,
Bulak balik manumadi.

2. Reh ne madan kepatutan,
Dahat mangebekin gumi,
Becik jani jalan carca,
Kepatutan Sang Hyang Rawi,
Nyinarin jagat tan mari,
Nguripin sarwa tumuwuh,
Taler munah kancan lara,
Keto dharmaning Hyang Rawi,
Pageh puguh,
Maweh sundaring bhawana.

3. Idupe dadi manusa,
Agetang tur ya apikin,
Satmaka jan ngamunggahang,
Manuncap swargane luwih,
Mangden suwud sedih kingking,
Manjakin keranjang uwug,
Ne maobah ya setata,
Becik Hyang Atma patitis,
Ento duluh,
Anggon nunggil ring Hyang
Suksma.

(Gaguritan Dharma Prawerti, oleh Ida Pedanda Kamenuh)
Apabila kita mendengarkan orang orang yang sedang menyanyikan lagu lagu daerah atau lagu-lagu keagamaan, terutama yang bernuansa daerah Bali (macapat, kidung, wirama dan lain sebagainya), serasa mengingatkan saya pada masa-masa kecil, ketika mendengarkan orang tua saat melantunkan pupuh-pupuh geguritan, kidung, wirawa tersebut. Berangkat dari hal tersebut, kiranya tulisan ini ada baiknya didahului dengan syair-syair pupuh Sinom yang tersurat dalam Gaguritan Dharma Prawerti, yang sedikit ada hubungannya dengan pemaknaan Galungan. Tulisan ini sengaja dikemas dalam bentuk tanya jawab, untuk lebih memberikan inspirasi tentang pemaknaan Galungan.

Pertanyaan (I):
Sesungguhnya apa keterkaitan dan pada syair-syair Pupuh Sinom di atas dengan topik Makna Galungan yang akan dibahas?

Jawaban (I):
Begini, sebagaimana kita ketahui bahwa kita hidup sebagai manusia (makhluk yang utama), agar selalu berpegang kepada Dharma. Agar betul-betul Dharma ini dapat dijadikan pegangan dan landasan dalam setiap tindakan. Karena dengan Dharma, manusia akan pasti hidupnya selamat, damai dan bahagia, serta setelah meninggal ia akan mendapatkan Sorga dan bahkan bisa mencapai Moksa. Itulah sebabnya kita patut berusaha memerangi Adharma, yaitu enam musuh, terutama musuh musuh yang ada di dalam diri manusia itu sendiri yang disebut dengan Sadripu, yaitu Kama (hawa nafsu), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Mada (kemabukan), Moha (kebingungan), dan Matsyarya (sifat dengki atau irihati), sebagai lawan dan Dharma. Karena seseorang yang dikuasai oleh Adharma, ia akan hidup sengsara dan terjerumus ke dalam neraka. Inilah sesungguhnya makna dan pada perayaan hari Galungan. Galungan adalah salah satu hari suci agama Hindu yang jatuh pada setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan, yang perayaannya diperingati sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma.

Pertanyaan (2):
Kalau demikian, apakah Galungan dapat dikatakan sebagai proses dan perjuangan hidup manusia yang dilakukan dalam setiap hari?

Jawaban (2):
Memang begitu. Hari Galungan yang kita rayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan itu, sesungguhnya adalah sebagai rasa cetusan kebebasan dan belenggu dan merupakan hari untuk memperingati kebenaran (dharma) terhadap ketidakbenaran (adharma), sehlngga Galungan dapat merupakan suatu perjuangan hidup, yakni peijua ngan manusia di dalam mempertahan kan hidupnya dan untuk mewujudkan cita-citanya dengan menegakkan kebenaran, baik ke dalam dirinya maupun keluar terhadap alam lingkungannya. Proses perjuangan ini terjadi secara terus-menerus dalam sepanjang masa, sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang dan bahkan sampai pada masa yang akan datang. Galungan yang kita rayakan setiap 210 hari sekali (6 bulan sekali melalui perhitungan “Wuku”), sebagai peringatan kemenangan dharma melawan adharma (kebatilan) itu, secara tradisional perayaannya tersebut dilatarbelakangi oleh karena adanya penyerangan Sang Kala Tiga yang melambangkan ketidakbenaran (adharma), yang selalu ingin menundukkan dan menguasai diri manusia.

Pertanyaan (3):
Apa yang dimaksud dengan Sang Kala Tiga dan apa hubungannya dengan perayaan hari Galungan yang kita rayakan pada setiap 210 hari sekali tersebut?.


Jawaban (3) oleh Narasumber:
Adapun Sang Kala Tiga yang dimaksud adalah Sang Kala Galungan, Sang Kala Dungulan dan Sang Kala Amangkurat. Diceritakan bahwa ketiga Bhuta ini, secara bergiliran ingin menyerang manusia, yakni mulai terjadi tiga hari secara berturut-turut sebelum Galungan dirayakan. Pada hari Minggu Paing Wuku Dungulan, terjadi penyerangan oleh Sang Kala Galungan. Selanjutnya pada waktu Senin Pon Wuku Dungulan (besoknya), penyerangan dilakukan oleh Sang Kala Dungulan. Sedangkan Sang Kala Amangkurat, melaksanakan penyerangannya pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan (sehari sebelum hari raya Galungan). Walaupun bertubi-tubi umat manusia diserang, ingin ditunduk kan dan dikuasai oleh ketiga bhuta kala itu, namun berkat keteguhan (sraddha dan bhaktinya) kepada Hyang Widhi Wasa, ternyata usaha ketiga bhuta kala tersebut gagal. Dan ini berarti kemenangan ada dipihak umat manusia, yang diwujudkan sebagai lambang dan kebenaran itu. Atas dasar kemenangan itulah, maka pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan dirayakan sebagai hari kemenangan dan tegaknya kebenaran (dharma). “Satwam eva jayate”, artinya kebenaran pasti menang. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap 210 hari sekali.

Pertanyaan (4):
Kalau demikian, sesungguhnya apa hakikat dan hikmah yang terkandung dalam perayaan Galungan tersebut?

Jawaban (4):
Sesungguhnya, Galungan adalah melukiskan betapa dan bagaimana perjuangan manusia di dunia ini untuk mempedahankan dan melanjutkan hidupnya serta jenis atau keturunannya. Perjuangan itu terjadi secara terus menerus dalam dua segi, yakni perjuangan secara mikrokosmos (buana alit) dan perjuangan secara makrokosmos (buana agung). Jika perjuangan itu kita lihat dari segi mikrokosmos (buana alit), maka perjuangan manusia itu terjadi di dalam dirinya sendiri. Di dalam diri manusia terdapat banyak musuh, yakni Sad Ripu dan berbagai nafsu rendah yang dapat menghancurkan diri manusia sendiri. Penjuangan sifat-sifat jahat dan buruk dengan sifat-sifat baik manusia, akan terjadi setiap saat dan terus-menerus dalam diri kita. Pergulatan antara ahamkara (sumber kejahatan) dengan budhi (sumber kebaikan) dalam diri kita terjadi setiap saat. Dan sesungguhnya peijuangan ini adalah satu pergulatan yang paling sulit dapat diatasi. Sebab, jika sraddha dan bhakti tidak kuat maka manusia itu akan dikuasai oleh ahamkaranya ini berarti bahwa secara keseluruhan manusia itu dikuasai oleh nafsu-nafsunya yang jahat yang disebut “ripu” itu, sehingga dapat terjerumus ke dalam penderitaan yang teramat sangat. Karena itu, ketiga Bhuta Kala yang dilukiskan dalam mithos tadi, harus dapat kita tundukkan dengan cara mewujudkan kesadaran dan bhakti kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan dengan pengendalian diri yang lebih ketat. Ada pun kesadaran dan bakti serta pengendalian diri, merupakan usaha yang amat baik untuk menundukkan segala musuh (ripu) yang ada di dalam diri kita, yang berbentuk nafsu-nafsu rendah, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Nafsu-nafsu yang tergolong ripu terdiri thri enam bagian atau Sad Ripu dan meliputi Krodha adalah kemarahan, Moha adalah kebingungan, Lobha adalah keserakahan, Kama adalah hawa nafsu, Mada adalah kemabukan atau kesombongan (sombong karena kepandaian, karena kecantikan, karena keturunan/ kebangsawan, karena kekayaan, karena keremajaan, karena minuman keras dan karena kemenangan), dan Matsarya adalah sifat iri hati yang dapat menimbulkan perbuatan-perbuatàn kejam, misalnya membakar hak milik orang lain meracun, memfitnah, mengamuk, memperkosa dan melakukan ilmu sihir/hitam. Sifat-sifat jahat atau rendah tersebut, harus dapat kita kendalikan dan kuasai, dengan penuh kesadaran dan bakti kita kepada Hyang Widhi Wasa serta dilengkapi dengan pelaksanaan tapa, brata, yoga dan samadhi. Dengan perjuangan itu, kita akan mampu mendharma di dalam diri kita masing-masing, setidak-tidaknya kita dapat bebas dan kekuasaan adharma yang selalu ingin menyerang dan menundukkan serta menguasai diri kita sendiri.

Pertanyaan (5):
Selanjutnya, apa makna terdalam daripada perayaan Galungan itu?

Jawaban (5):
Galungan yang kita rayakan pada setiap hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, di samping merupakan peringatan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kebatilan), juga bahwa Galungan tersebut memperingati kita, agar kita selalu sadar dan waspada terhadap usaha Sad Ripu dan berbagai nafsu yang tergolong jahat yang digambarkan sebagai tiga Bhuta Kala tadi agar kita terhindar dan bahkan dapat sebaliknya, yakni menguasainya. Agaknya apa yang tersurat di dalam Weda, cukup memberikan isyarat kepada kita agar selalu sadar dan waspada kepada ripu-ripu yang ada di dalam diri kita itu. Hal tersebut dinyatakan sebagai berikut : Hawa nafsu dan kebencian itu, berbeda pada indriya, sebaiknya jangan sampai seorangpun berada di bawah pengaruh kedua perasaan dan jalan kehidupan” (Bh. G. III. 34). Lebih lanjut di dalam Bh. G. II. 64, dinyatakan sebagai berikut : Bagi yang punya disiplin terhadap indriyanya, bergerak diantara semua obyek panca indriyanya, tetapi tidak berpengaruh olehnya, malah menguasainya dengan Atmannya, ia menjalani kehidupân yang damai”.

Sedangkan Bh. G. V. 23, 26 menyebutkan sebagai berikut: “Ia yang mampu bertahan di dunia ini dan merasakan kebebasan dan badan yang dikungkurig oleh nafsu dan merasakan kebebasan dan badan yang dikungkung oleh nafsu dan kemarahan dan malah bisa menyelaraskan keduanya itu, ia adalah orang yang bahagia sejati. Kedamaian yang abadi bersemayam pada mereka yang tahu siapa diri mereka, dan dapat bebas dan rasa nafsu dan marah, mereka bersifat damai dan berpikiran damai”. Demikian pula di dalam Bh. G. XVII.21, dinyatakan sebagai berikut : “Pintu mereka ada tiga buah yang menyebabkan kehancuran diri, yaitu hawa nafsu, kebencian dan kelobhaan; hendaknya engkau (manusia) menghindari ketiga sifat ini”.

Dengan demikian, betapa sulitnya, bila kita menginginkan kehidupan yang damai, bahagia lahir batin di dunia fana ini dalam rakhmatnya Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena itu, marilah kita bersama-sama mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan segala hawa nafsu, kemarahan, kelobhaan (keserakahan), irihati, kesombongan dan kebingungan itu, sambil memupuk pikiran, perkataan dan perbuatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama hidup kita. Penguasaan terhadap Sad Ripu dan nafsu-nafsu yang tergolong jahat sangat penting untuk dilakukan sehingga hati kita masing-masing bisa terhindar dari segala godaan, terhindar dari keinginan-keinginan yang tidak baik terhadap sesama hidup dan lingkungan alam sekitar kita.


Pertanyaan (6):
Di samping pemaknaannya tersebut berhubungan dengan diri sendiri bagaimana dengan perjuangan hidup yang berkaitan dengan alarn dan lingkungan?

Jawaban (6):
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa perjuangan yang kita lakukan dalam dunia makrokosmos (buana agung), kita harus selalu berusaha dan meningkatkan pemeliharaan alam lingkungan hidup agar tetap harmonis. Karena sesungguhnya, alam lingkungan itu adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dan kehidupan manusa itu. Tèntunya dalam hal ini pun kita memerlukan penguasaan dan pengendalian atas nafsu-nafsu kita. Bila orang yang dapat menaklukkan musuh sebanyak seribu orang (musuh) adalah disebut pahlawan, maka orang yang dapat menaklukkan musuh sebanyak seribu orang (musuh) adalah disebut pahlawan, maka orang yang dapat menaklukkan dirinya sendirinya pun juga disebut pahlawan. Bahkan menundukkan musuh-musuh yang ada di dalam diri sendiri (yang tergolong Sad Ripu itu), sesungguhnya tidaklah semudah menundukkan seribu musuh yang ada di dalam alam lingkungan. Maka dan itu penguasaan dan pengendalian diri sungguh amat mutlak diperlukan dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan tantangan zaman, yakni dalam rangka menumbuhkan sikap hidup yang seimbang, serasi, berkepribadian utuh, memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi serta manusia yang bakti kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa).®WHD No. 500 Agustus 2008.
Read more ►

Senin, 15 November 2010

Usaba Desa di telengan

0 komentar
Tanpa terasa hampir setahun lamanya warga telengan-gegelang merayakan Upacara pengusabaan di Pura Pucak sari Bukit cemeng dan Pura puseh.Sudah berjalan hampir setiap hari pengayah(warga yang melakukan persiapan sarana dan prasarana) Rame-rame datang ke pura puseh untuk mengerjakan banyak sesuatu yg sekiranya di pakai untuk upacara usaba,dengan sekian banyak warga maka prajuru/pengurus banjar menggilir jadwal ngayah.Mulai dari banjar telengan kaja,telengan tengah dan telengan kelod/kalanganyar ini rutin dilakukan setiap hari dari sebulan sebelum upacara.Rutinitas Usaba di lakukan setiap setahun sekali,biasanya jatuh pada hari Purnama Kelima.Namun kali ini merupakan usaba yang kedua jatuh pada purnama Kenem,karena ada hitungan tersendiri di lingkungan adat.
Sebelum upacara usaba di Pura luhur pucak sari Bukit cemeng di mulai,warga terlebih dahulu melakukan melasti/melis ke pantai Mimba yang jalurnya lewat desa pekraman Antiga-Pangitebel-pengalon.Semua Ida Ratu Betara yang berstana di Br.telengan dan desa pekraman gegelang katuran/di iring oleh warga kepantai untuk di sucikan pada tanggal 18 Nopember 2010.warga melakukan persiapan dari tanggal 17 Nopember 2010 sore hari jam 16:00 wita Ida Ratu Betara dari masing-masing pura/Pura keluarga sudah di stanakan di pura puseh karena esok harinya Jam 07:00 wita Ida Ratu betara kabeh sudah berangkat melasti.Jarak perjalanan di perkirakan 16 Km hingga memakan waktu perjalanan sampai jam 17 :00 wita/kurang lebih 10 jam perjalanan.
Setelah perjalanan melasti usai,untuk hari ketiganya tanggal 21 Nopember 2010 adalah merupakan Usaba di Pura Luhur pucak sari Bukit cemeng.Dimana Pura ini terletak di perbukitan pas di sebelah barat laut desa telengan dengan jarak sekitar 3,5 Km,jarak tempuh perjalanan 2 jam.dari atas perbukitan ini terlihat panorama desa yang menakjubkan,bisa melihat Labuan amuk pertamina-pelabuhan padang bay-yeh malet,sebelah barat ada sidemen-iseh-padang tunggal dan tidak kalah pentingnya bisa melihat Gunung agung terasa lebih dekat.View lautan,persawahan dan perbukitan yang membawa suasana menjadi hening penuh dengan kerlap-kerlip sinar cahaya baik dari cahaya langit dan cahaya perkampungan yang begitu asri.
Seperti biasanya Upacara pengusabaan di lakukan siang hari yang di iringi Gamelan bali,tari-tarian,pendet,rejang dewa dll...
Mulai dari siang hari para pemedek(orang yang melakukan persembahyangan) tiada putusnya,Banyak pemedek yang melalukan pemuspaan mulai dari yang sudah berkeluarga,muda-mudi,anak-anak sejagat desa pekraman gegelang,antiga dan ada juga orang dari luar yang bersujud bakti kepada beliau yang berstana di Pura luhur pucak sari bukit cemeng.Dimalam hari begitu banyak pemedek hingga harus tidur di lingkungan pura/mekemit,ada sampe bikin api unggun karena dinginya suhu udara di lingkungan pura,ada juga membawakan nyanyian megenjekan ala anak karangasem bahkan sampai tidur beralaskan selembar kain diatas rerumputan.
Berlanjut esok harinya para anak muda disibukan dengan membuat penjor untuk menghiasi jalanan dari telengan-gegelang dan juga menghiasi bale banjar untuk menyambut perayaan Usaba Di pura puseh.sehari sebelum upacara warga sudah ngayah semuanya untuk persiapan konsumsi dan upacara esok,mulai dari Potong kerbau,babi,bebek,ayam dll..
Bertepatan hari Usaba tanggal 24 Nopember 2010/Rahina budha manis Julungwangi,sasih kenem warga ngayah sesuai dengan tugasnya masing-masing,ada di bagian konsumsi,Mundut/Ngiring Ida betara,panitia,keamanan,wewantenan upacara baik yang merupakan sesajen dan juga orang yang dibidangnya seperti :Tapini,jero mangku,Ida pedanda tidak terlepas juga pengayah yang menyelesaikan rangkaian upakara dan upacara, dll...
Turut serta diadakan lomba seperti :banten pajegan,penjor,beleganjur dan juga di meriahkan berbagai tari-tarian,pesantian,topeng.berkelanjutan hingga malam hari di adakanya wayang belah pane asal bangli yang ikut memeriahkan pengusabaan saat ini.Sedangkan Ida ratu betara tetap di stanakan di pura puseh dan pemedek silih berganti untuk melakukan persembahyangan memuji beliau agar senantiasa meridoi keselamatan bagi hambanya dan jagat raya ini.
Read more ►

USABA PUSEH

0 komentar
Tanpa terasa hampir setahun lamanya warga telengan-gegelang merayakan Upacara pengusabaan di Pura Pucak sari Bukit cemeng dan Pura puseh.Sudah berjalan hampir setiap hari pengayah(warga yang melakukan persiapan sarana dan prasarana) Rame-rame datang ke pura puseh untuk mengerjakan banyak sesuatu yg sekiranya di pakai untuk upacara usaba,dengan sekian banyak warga maka prajuru/pengurus banjar menggilir jadwal ngayah.Mulai dari banjar telengan kaja,telengan tengah dan telengan kelod/kalanganyar ini rutin dilakukan setiap hari dari sebulan sebelum upacara.Rutinitas Usaba di lakukan setiap setahun sekali,biasanya jatuh pada hari Purnama Kelima.Namun kali ini merupakan usaba yang kedua jatuh pada purnama Kenem,karena ada hitungan tersendiri di lingkungan adat.
Sebelum upacara usaba di Pura luhur pucak sari Bukit cemeng di mulai,warga terlebih dahulu melakukan melasti/melis ke pantai Mimba yang jalurnya lewat desa pekraman Antiga-Pangitebel-pengalon.Semua Ida Ratu Betara yang berstana di Br.telengan dan desa pekraman gegelang katuran/di iring oleh warga kepantai untuk di sucikan pada tanggal 18 Oktober 2010.warga melakukan persiapan dari tanggal 17 Oktober 2010 sore hari jam 16:00 wita Ida Ratu Betara dari masing-masing pura/Pura keluarga sudah di stanakan di pura puseh karena esok harinya Jam 07:00 wita Ida Ratu betara kabeh sudah berangkat melasti.Jarak perjalanan di perkirakan 16 Km hingga memakan waktu perjalanan sampai jam 17 :00 wita/kurang lebih 10 jam perjalanan.
Setelah perjalanan melasti usai,untuk hari ketiganya tanggal 21 Oktober 2010 adalah merupakan Usaba di Pura Luhur pucak sari Bukit cemeng.Dimana Pura ini terletak di perbukitan pas di sebelah barat laut desa telengan dengan jarak sekitar 3,5 Km,jarak tempuh perjalanan 2 jam.dari atas perbukitan ini terlihat panorama desa yang menakjubkan,bisa melihat Labuan amuk pertamina-pelabuhan padang bay-yeh malet,sebelah barat ada sidemen-iseh-padang tunggal dan tidak kalah pentingnya bisa melihat Gunung agung terasa lebih dekat.View lautan,persawahan dan perbukitan yang membawa suasana menjadi hening penuh dengan kerlap-kerlip sinar cahaya baik dari cahaya langit dan cahaya perkampungan yang begitu asri.
Seperti biasanya Upacara pengusabaan di lakukan siang hari yang di iringi Gamelan bali,tari-tarian,pendet,rejang dewa dll...
Mulai dari siang hari para pemedek(orang yang melakukan persembahyangan) tiada putusnya,Banyak pemedek yang melalukan pemuspaan mulai dari yang sudah berkeluarga,muda-mudi,anak-anak sejagat desa pekraman gegelang,antiga dan ada juga orang dari luar yang bersujud bakti kepada beliau yang berstana di Pura luhur pucak sari bukit cemeng.Dimalam hari begitu banyak pemedek hingga harus tidur di lingkungan pura/mekemit,ada sampe bikin api unggun karena dinginya suhu udara di lingkungan pura,ada juga membawakan nyanyian megenjekan ala anak karangasem bahkan sampai tidur beralaskan selembar kain diatas rerumputan.
Berlanjut esok harinya para anak muda disibukan dengan membuat penjor untuk menghiasi jalanan dari telengan-gegelang dan juga menghiasi bale banjar untuk menyambut perayaan Usaba Di pura puseh.sehari sebelum upacara warga sudah ngayah semuanya untuk persiapan konsumsi dan upacara esok,mulai dari Potong kerbau,babi,bebek,ayam dll..
Bertepatan hari Usaba warga ngayah sesuai dengan tugasnya masing-masing,ada di bagian konsumsi,Mundut/Ngiring Ida betara,panitia,keamanan,wewantenan upacara baik yang merukan sesajen dan juga orang yang dibidangnya seperti :Tapini,jero mangku,Ida pedanda tidak terlepas juga pengayah yang menyelesaikan rangkaian upakara dan upacara, dll...
Turut serta diadakan lomba seperti :banten pajegan,penjor,beleganjur dan juga di meriahkan berbagai tari-tarian,pesantian,topeng.berkelanjutan hingga malam hari di adakanya wayang belah pane asal bangli yang ikut memeriahkan pengusabaan saat ini.Sedangkan Ida ratu betara tetap di stanakan di pura puseh dan pemedek silih berganti untuk melakukan persembahyangan memuji beliau agar senantiasa meridoi keselamatan bagi hambanya dan jagat raya ini.
Read more ►

Minggu, 07 November 2010

 

Copyright © TELENGAN BALI Design by cenik85 | Blogger Theme by Nak Bali | Powered by Telengan Community