Senin, 20 September 2010

Nyakup At telengan-Bali

0 komentar

photo by:Cenik





Upacara nyakup di perempatan Br.telengan,Ds.Gegelang,Kec.Manggis,Kab.karangasem-Bali yang bertepatan hari : minggu manis kelawu,Tanggal : 5 September 2010 Karena Puncak Karya Ngubung Pedagingan jatuh pada hari : Rabu wage kelawu,Tanggal 8 September 2010 Di pura Tegallinggah.Nyakup artinya Cakup(bahasa bali)atau Bersatu(bahasa indonesia)jadi Nyakup artinya :Mempersatukan Ida Betara Kabeh dalam wujud air/Tirta yang akan menyaksikan Upacara Ngubung Pedagingan di Pura Tegallinggah.Upakara ini di puput oleh : Ida Pedanda Istri Jelantik/Ida Pedanda Nabe,griya Duda-karangasem.
Read more ►

Selasa, 14 September 2010

Melaspas Dan Caru Rsi Gana

0 komentar

Bertepatan Rahina : Soma Wage Prangbakat,Sasih Karo.Tanggal : 09 Agustus 2010,Keluarga pasek Telengan Khususnya Dadia Pura Tegallinggah-Telengan/Kab.Karangasem.Menyelenggarakan Pemelaspas Pelinggih Dan Caru Rsi Gana Di Pura tegallinggah-Telengan,Guna untuk menyucikan Pura Karena akan diadakanya upacara Karya Ngubung Pedagingan Pada Hari Rabu wage/Budha Cemeng Kelawu,Sasih Ketiga yang akan datang.Melaspas Pelinggih dan Caru Rsi Gana ini di puput Oleh Ida Pedanda Gede Putu Ngenjung saking Griya Duda-Karangasem dan Ida Pedanda Budha sakinng Griya Taman Sari Budekeling-Karangasem.Serta di iringi oleh Sang Manggala Karya Dan Pengayah Di luar dadia,Diantaranya : I Md Darma Yasa (Klian Dusun Br.Telengan),I wayan Suita Ariana,I wayan Bandem SH,I Nyoman Degeng Spd,I Nyoman Sidemen,dan Banyak lagi yang tidak Bisa di sebutkan satu-persatu.Selain itu juga di iringi dengan Gamelan Gong,Kidung Warga sari,tari-tarian.

Klik disini Videonya

By : Cenik
Read more ►

Rabu, 01 September 2010

Ratu Pasek

0 komentar
Siapa yang dipuja atau distanakan pada suatu pelinggih atau parahyangan, tidak ada yang tahu secara pasti karena ini sangat erat kaitannya dengan keyakinan pemujanya. Namun setidak-tidaknya awal keberadaan suatu bangunan pelinggih tentu ada maksud dari yang membuat yang bisa merupakan tempat pemujaan Hyang Widhi, Bhatara Kawitan, atau orang suci yang telah berjasa pada jamannya.

Jika kita hadir ke Pura Dasar Bhuwana Gelgel, Klungkung, maka jika kita masuk ke utama mandala, maka setelah melewati gerbang dan belok kekiri, kita akan menjumpai pelinggih berupa Meru Tumpang Tiga yang merupakan tempat pemujaan Ratu Pasek. Juga jika kita hadir ke Pura Besakih dikomplek Parahyangan Leluhur, maka tepatnya di Pura Catur Lawa kita juga akan menjumpai pelinggih berupa Meru Tumpang Pitu yang juga tempat memuja Ratu Pasek. Lalu siapa Ratu Pasek ini?

Bangunan Meru Tumpang Tiga di Pura Dasar Bhuwana Gelgel adalah tempat memuja Mpu Ghana yang merupakan saudara ketiga dari Panca Tirta (Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bharadah). Mpu Ghana penganut aliran Ghanapatya, tiba di Bali pada hari Senin kliwon, wara kuningan tahun saka 922 (tahun 1000 Masehi). Beliau berparahyangan di Gelgel dan menjalani kehidupan Brahmacari (tidak kawin seumur hidup). Pada tahun saka 1198 (tahun 1267 Masehi) tempat ini oleh Mpu Dwijaksara (Leluhur Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel) dibangun sebuah pura yang disebut Babaturan Penganggih. Pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Smara Kepakisan yang dinobatkan tahun saka 1302 (tahun 1380 Masehi) pura ini ditingkatkan menjadi Pura Penyungsungan Jagat dengan nama Pura Dasar Bhuwana Gelgel. Di samping menjadi Pura Penyungsungan Jagat juga menjadi penyungsungan pusat 3 (tiga) warga, yaitu Warga Pasek, Warga Satrya Dalem, dan Warga Pande.

Pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong tiba di Bali pada tahun saka 1411 (tahun 1489 Masehi) Danghyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rauh) dan setelah menjadi Purohita kerajaan Gelgel, kemudian di Pura Dasar Bhuwana Gelgel ditambah lagi satu pelinggih untuk Danghyang Nirartha dan keturunannya, sehingga pura itu menjadi pusat penyungsungan empat warga.

Bagaimana dengan Ratu Pasek yang di Besakih? Beliau adalah Mpu Semeru, yang kedua dari Panca Tirta. Beliau adalah pemeluk agama Siwa tiba di Bali pada hari Jum,at kliwon, wara pujut hari purnamaning sasih kawulu, tahun saka 921 (tahun 999 Masehi). Beliau berparahyangan di Besakih dan menjalani hidup brahmacari (tidak kawin seumur hidup), namun beliau mengangkat putra dharma dari penduduk Bali Mula, yang sesudah pudgala bergelar Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah. Selanjutnya Mpu Dryakah ini menurunkan Warga Kayuselem (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, dan Kayuan). Di bekas parahyangan Mpu Semeru inilah sekarang berdiri Pura Ratu Pasek (Caturlawa Besakih).

Kalau kita sudah ketahui siapa yang dimaksud Ratu Pasek ini, maka seharusnya seluruh pratisantana Sang Panca Tirta seperti: Pasek, Ida Bagus, Anak Agung, I Gusti, Kayu Selem, dan lain-lain, wajib melakukan puja bakti di sini. Kenyataannya umat yang datang melakukan puja bakti kebanyakan adalah Semeton Pasek. Kenapa bisa begitu? Apakah karena disebut dengan Ratu Pasek, sehingga kesannya hanya untuk Semeton Pasek? Apakah mungkin diganti saja dengan nama beliau, yaitu Mpu Ghana dan Mpu Semeru?

Ada suatu kejadian terkait dengan hal di atas. Seorang kawan di Bali yang nama depannya “I Gusti” menyampaikan pada saya, bahwa ada larangan dari keluarganya untuk menyembah Pasek atau leluhur Pasek. Dia kemudian tertegun setelah saya katakan, bahwa leluhurnya beberapa tingkat dari garis perempuan (Pradana) bernama Ni Luh Pasek. Ada juga kawan saya yang kalau di Bali masih menyebut keluarga Brahmana mengatakan hal yang sama. Sayangnya saya belum sempat menyampaikan, bahwa salah seorang dari enam istri leluhurnya (Danghyang Nirartha) adalah keturunan Bendesa Mas yang adalah keturunan Pasek Gelgel. Pandangan seperti ini bukan hanya terjadi pada dua teman saya itu, tetapi sudah menjadi pendapat banyak orang khususnya di Bali, karena ketidak-tahuan mereka tentang keadaan yang sebenarnya.

Ini adalah keberhasilan politik masa lalu yang mengkotak-kotakkan manusia. Di samping itu banyak semeton Pasek di masa lalu yang tidak mau mengikuti jejak leluhurnya menjadi pemuka agama, dan mereka memilih menjadi petani bahkan menjadi abdi. Akibatnya cap Pasek dianggap rendah, dan akhirnya parhyangan Ratu Pasek pun seperti “dihindari” oleh sebagian orang.

Semeton Pasek banyak tangkil memuja Ratu Pasek karena secara kuantitas Semeton Pasek terbanyak di Bali. Jika saja orang Bali tetap bhakti kepada leluhurnya yang sejati, Ratu Pasek akan lebih banyak lagi dipuja umat, karena Beliau sejatinya adalah Panca Tirtha. Jadi bukan dihindari. Kini, pada saat bencana alam banyak terjadi di Negara kita seharusnya menyadarkan kita untuk lebih meningkatkan bhakti pada Hyang Widhi dan Bhatara Kawitan. Mintalah petunjuk pada Hyang Widhi, dan minta juga restu dari Ratu Pasek.

DAri : Pasek
Read more ►

Kamis, 26 Agustus 2010

Karangasem Minta Tambahan Sambungan Listrik

0 komentar
Amlapura

Masyarakat Karangasem tak hanya mengalami kekurangan air, tapi sebagian dari mereka rupanya masih belum terjangkau aliran listrik PLN. Dalam acara sosialiasi pemakaian lampu hemat energi di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Karangasem, Selasa (18/9) kemarin, sejumlah kadus minta PLN melakukan penambahan sambungan khusunya untuk warga yang berada di wilayah pedalaman.

‘’Saat ini masih banyak warga kami yang belum mendapat listrik. Kami kurang tahu apa masalahnya, yang jelas mereka sangat berharap PNL bersedia melayani mereka,’’ ungkap Kadus Telengan, Manggis, Made Darmayasa.

Yang membuat Darmayasa makin bingung lantaran proposal permohonan pemasangan sambungan baru sudah dilayangkan ke PLN. Tapi sejauh ini, menurut dia, proposal tersebut belum mendapat tanggapan. ‘’Jangankan kabel, tiangnya saja belum ada. Apa karena jaraknya yang jauh sehingga membuat PLN tak mau,’’ keluhnya.

Kepala PLN Area Pelayanan Klungkung yang juga membawahi Karangasem, Wayan Jaman Sutapa, S.E. berjanji menindaklanjuti harapan tersebut. Cuma pihaknya tidak mau memasang target kapan proposal warga akan dipenuhi.

Selain soal sambungan baru, sejumlah Kadus juga mempertanyakan buruknya kualitas listrik PLN. Kadus Wates Tengah, Selat, Komang Sujana, misalnya. Pihaknya mengeluhkan aliran listri ke rumah-rumah warga yang banyak dan sering menyala setengah lilin.

Sementara itu dalam sosialisasi kemarin, para kadus diharapkan bisa menjadi penyambung lidah PLN dalam mewujudkan program hemat listrik atau yang lebih dikenal dengan Program Banjar Galang Santhi. Karena, selain akan mampu menjaga kualitas daya listrik, hemat listrik berarti akan mengurangi beban biaya pemakaian rekening masyarakat. ‘’Minimal masyarakat mengurangi pemakaian listrik 50 watt ketika terjadi beban puncak antara pukul 18.00-22.00,’’ ungkap Jaman Sutapa.

Contributed by darma
Sep 18, 2007 at 05:34 AM
Read more ►

Rabu, 18 Agustus 2010

Trisandya

0 komentar
Marilah kita memuja Tuhan, Ida Hyang Widhi Waça
Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.

Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.
Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.
Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:

Mantran Trisandya
• Tangan Kanan
Om suddha mam svaha Artinya : Om bersihkanlah hamba
• Tangan Kiri
Om ati suddha mam svaha Artinya : Om lebih bersihkanlah hamba

1. Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat
2. Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit.
3. Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah
4. Om papo'ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih
5. Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva
6. Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam
Om Santih, Santih, Santih Om.
Artinya :
• Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
• Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
• Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
• Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
• Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
• Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om. damai. damai, damai, Om.
18 Agustus 2010
By: Cenik
Read more ►

Tabuh Rah

0 komentar

  1. PENGERTIAN TABUH RAH.
    Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya).

  2. SUMBER PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Sumber penggunaan tabuh rah terdapat pada Panca Yadnya.

  3. DASAR- DASAR PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Dasar- dasar penggunaan tabuh rah tercantum di dalam :
    1. Prasasti Bali Kuna (Tambra prasasti).
      1. Prasasti Sukawana A l 804 Çaka.
      2. Prasasti Batur Abang A 933 Çaka.
      3. Prasasti Batuan 944 Çaka.
    2. Lontar- lontar antara lain :
      1. Siwatattwapurana.
      2. Yadnyaprakerti.

  4. FUNGSI TABUH RAH:
    Fungsi tabuh rah adalah runtutan/ rangkaian dan upacara/ upakara agama (Yadnya).

  5. WUJUD TABUH RAH:
    Tabuh Rah berwujud taburan darah binatang korban.

  6. SARANA :
    Jenis- jenis binatang yang dijadikan korban yaitu : ayam, babi, itik, kerbau, dan lain- lainnya.

  7. CARA PENABURAN DARAH
    Penaburan darah dilaksanakan dengan menyembelih, "perang satha " (telung perahatan) dilengkapi dengan adu- aduan : kemiri; telur; kelapa; andel- andel; beserta upakaranya

  8. PELAKSANAAN TABUH RAH:
    1. Diadakan pada tempat dan saat- saat upacara berlangsung oleh sang Yajamana.
    2. Pada waktu perang satha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.
    3. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan tabuh rah

  9. Aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan- ketentuan tersebut di atas tidaklah perang satha dan bukan pula runtutan upacara Yadnya.

  10. Di dalam prasasti- prasasti disebutkan bahwa pelaksanaan tabuh rah tidak minta ijin kepada yang berwenang.

  11. Memperinci Pelaksanaan 'Tabuh Rah" dalam Bhuta Yadnya
  12. Tabuh Rah dilaksanakan dengan "penyambleh", disertai Upakara Yadnya.

  13. Tabuh Rah dalam bentuk "perang sata" adalah suatu dresta yang berlaku di masyarakat yang pelaksanaannya boleh diganti dengan "penyambleh".

  14. Apabila akan melakukan "perang sata", harus memenuhi syarat sebagai berikut :
    1. Upacara Bhuta Yadnya yang boleh disertai "perang sata" adalah :
      1. Caru Panca Kelud (Pancasanak madurgha).
      2. Caru Rsi Ghana.
      3. Caru Balik Sumpah.
      4. Tawur Agung.
      5. Tawur Labuh Gentuh.
      6. Tawur Pancawalikrama.
      7. Tawur Eka Dasa Rudra.
    2. Pelaksanaannya dilakukan di tempat upacara pada saat mengakhiri upacara itu.
    3. Diiringi dengan adu tingkih, adu pangi, adu taluh, adu kelapa, andel- andel serta upakaranya.
    4. Pelaksanaannya adalah sang Yajamana dengan berpakaian upacara.
    5. Perang sata maksimum dilakukan "tiga parahatan" (3 sehet) tidak disertai taruhan apapun.

  15. Selain dari yang tersebut dalam butir di atas adalah merupakan suatu penyimpangan.

  16. Lebih detail Klik disini
Read more ►

Jumat, 13 Agustus 2010

Puja Trisandya.mp3

0 komentar
Read more ►
 

Copyright © TELENGAN BALI Design by cenik85 | Blogger Theme by Nak Bali | Powered by Telengan Community